SAYA TIDAK PERDULI !


Saya memang sudah lama menentangnya, kebijakannya yang sewenang-wenang dan otoriter sungguh tidak bisa diterima nuraniku. Berkali-kali saya digosipkan, fitnah, hinaan didepan umum, tidak membuatku bergeming.

Hari ini, dia menatapku tajam, kedua matanya membelalak..lalu dengan keras dia membentak saya...'fuck you, Yos!'...'ah biasa aja, kenapa saya tidak perduli ya?' gumanku dalam hati, sedikitpun tak ada marah..sembari kulepas sedikit senyum. Gemas dengan responku, dia membanting kursi dihadapnya, lalu dia mengeluarkan sumpah serapah...berbagai gelar dan tuduhan yang saya sendiri pun tidak pernah mimpi mendengarkannya, keluar, terlontar....'glek', suara air liurku...'hhmm'..satu tarikan nafas panjang pun, mengantar saya tidak perduli.

Dia kini betul-betul marah pada responku....'apa maumu?'...bentaknya....dia mencengkeram kerah bajuku, ditariknya hingga saya terjengkang, lalu dengan sekuat tenaga dia menampar pipiku,..kiri..kanan bergantian, 'plak..plak!' hingga merah ..perih....lengannya masih di kerah bajuku....dia memukul lambungku dengan keras 'arggh'..saya mengeluh sakit, terasa benar kepalan tangannya menghujam lambungku, sakit!.....hingga dia melepaskanku tersungkur di lantai.....ada dua tiga tetes darah kurasa menetes di bibirku, asin. ...hufft.....sedikit pandanganku gelap...nafas ku sesak, lutut kupun sulit tuk berdiri.....lalu dengan dua tiga tarikan nafas panjang...'hhhmmmm'......cukup memberiku kekuatan tuk berdiri, lagi.....sambil melepas sedikit senyum ke arahnya...  

'Diam'..bentaknya. Padahal sebaris kalimat pun tak pernah ku katakan. Semua lembaran file ku yang sejak tadi kuletakkan diatas meja, diraihnya. 'Ini file mu!'...tangannya segera meremas, setumpukan file yang sejak semalam tak tidur ku persiapkan, terus berada di depan laptop, dan dengan jari yang belepotan tinta karena suntikannya yang tidak tepat. 'Sreeet'  tangannya lalu merobek-robek fileku, kulihat kilatan mata yang puas, dirobeknya fileku hingga menjadi cecahan kecil, lalu perlahan dijatuhkannya tepat didepan wajahku.....kurasan lembaran kecil itu mengenai bulu mata dan hidungku....berayun hingga ke lantai.

Entahlah, tak ada yang kurasa, mungkin karena saya bisa mencetak kembali file itu dari laptopku, saya masih tetap tak perduli perlakuannya,kembali sesungging senyum kuberikan. Hingga sebuah tendangan kaki kanannya menghujam dada kananku, saya tersungkur, kali ini pandanganku gelap...'buk'..saya pun ambruk...kedua lututku tertekuk...punggungku jatuh tepat mengenai sisi meja kayu yang tebal itu....perlahan saya tersandar....'aaarrgghh'..desah menahan sakit tak terhingga. Sakit sekali, kurasakan seperti sol sepatu ukuran 42-nya masih menempel, dadaku terasa panas terbakar.....sakit karena tendangannya. Ah....badannya tepat berdiri di depanku..lalu dia meludahiku 'ccuhh'....tak terlalu kurasakan, meski kuyakini sesuatu yang cairan kental, menempel di dahiku....'hhhmmm'

Saya pun mencoba menjejak ke meja, masih menahan sakit yang tak pernah kualami sebelumnya. Dia terduduk di kursi, tepat dihadapanku. Perlahan kudengar desah nafas yang naik turun dengan cepat...’hufft haah..hufft hah....hufft hah.....’ terasa sekali seperti sebuah kemarahan yang baru saja memuncak dan turun drastis. Kedua tangannya yang sedari tadi berkacak pinggang sudah turun, dia memegang sisi meja, seakan menahan nafasnya yang tersengal sengal. Kedua bahunya pun perlahan turun. Dia tertunduk, lalu tangan kanannya yang tadi memukul lambungku, berganti memegang dadanya.

‘Arrggh’.....dia menahan sakit kupikir, dagunya mencongak keatas, layaknya seseorang yang mencoba mendapatkan okseigen lebih banyak, ... ’hufft haah..hufft hah....hufft hah.....’ desah nafanya silih berganti dengan rintihan. Dia lalu menunjuki ku dengan tangan kirinya....marah sekali, kedua matanya membelalak hingga hanya tersisa sedikit mata hitam...dan dia jatuh tersungkur dihadapanku. Entahlah, dia mungkin pingsan atau mati karena gagal jantung.

Saya mencoba berdiri, dan yang kulihat hanya rambut kepalanya yang tertunduk, kedua tangannya menjejak dadanya, tak ada desahan nafas lagi, saya mencoba bdiri lebih tegak, kurapikan bajuku, bersihkan sedikit sisa sepatu yang menempel di dada kananku. Masih ada jelas sisa debu sepatunya, tak semuanya hilang.  

Waktu berlalu, Polisi pun datang menginterogasiku, melihat berbagai macam bukti, sayapun jadi tersangka, namun dengan kenyataan bahwa dia mati karena gagal jantung, saya pun tak jadi ditahan lebih lama, Ditahan beberapa bulan di Rumah Tahanan, bolak balik kantor Polisi, tahanan, selama beberapa bulan sangat menyita waktuku.  Dibentak, dicurigai, dimarahi, bahkan sesekali tendangan sepatu laras pun sudah kurasakan.  

Setahun ini, sangat lebih dari cukup untuk mengajariku apa artinya perjuangan akan kerasnya klehidupan. Saya pun belajar satu hal ‘tak perduli’ hingga sesaat saya melamar kerja sebagai petugas parkir liar di sebuah cafe, dan memukuli habis hingga babak belur seorang pencuri yang coba mencongkel pintu mobil seorang pengunjung, merubah nasibku hari itu.

‘Siapa namamu?’

‘Yos’.

‘Ini kartu namaku, besok kau datang ke situ!’

Entah pikiran apa yang merasuki, saya datang ke alamat itu, sebuah rumah kantor, didalamnya ada sebuah ruang penerimaan, dihuni seorang perempuan. Tidak cantik, sama sekali tidak menarik wajahnya, jadi ku lalui saja. ‘heh mau kemana?’ teriaknya, lalu kulemparkan kartu nama tepat mengenai wajahnya, dia membacanya dan terdiam. Saya pun masuk.

‘Pagi Pak, saya datang’

‘Duduk. ..kugaji kau dua juta perbulan, jadi bodyguard bayanganku....tugasmu awasi  stafku
yang coba curang, pukul kalau perlu.., jelas?’

‘jelas’

Setahun ku lalui, kenangan masa lalu, cukup memberiku pelajaran, bagaimana membuat kenangan baru di memori orang lain. Banyak tugas yang sukses kulakukan , hingga tugas hari ini kuhadapi, membongkar kuburan keluarga tuk pembangunan kawasan pertokoan.

‘Paak, kasihani kami Pak, itu kuburan bapak kami!’ ratap Ibu dan anak gadisnya. Seorang anak kecil laki-laki berusia lima tahun juga ikut terisak-isak, disisinya. ‘kami tahu pak, kami tidak punya surat tanah, kami tinggal tidak sah, tapi itu kuburan bapak kami’ Berbagai alasan pun mengucur keluar, menjelaskan identitas sang penghuni kuburan, ya menjelaskan dengan tepat seseorang yang dua tahun lalu mengajari apa arti kekerasan, hinaan, pukulan, ludah dan sejenak segala hal yang buruk.

Kenangan itu membayang di pikiranku, ..’pak, bagaimana pak?’....serak seru sang istri....
‘tangan kananku lalu ku angkat dan memberi isyarat kepada operator eskavator untuk membongkar makam itu...’ggrrrrrr’ suara eskavator mencangkul dan membongkar makam, beberapa tulang tersingkap...disela jeritan istri, anak perempuan dan anak kecil itu...’paaaak, tolong pak, beri kami saja waktu untuk kumpulkan tulang tulang jenasah orang tua kami pak!’

‘Bagaimana pak?’ tanya asistenku, ‘Kita beri mereka waktu?’
Saya terdiam, tanpa ekspresi, hingga asistenku pun terdiam. .’lanjutkan, saya tidak perduli !’

Comments

Popular Posts