KONFERENSI PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA PROPINSI SULSEL 2009
Assalamu' alaikum warahmatulLahi wabarakatuh
Saudara, rekan guru, hari ini saat tulisan ini di posting, satu perjalanan panjang organisasi guru PGRI di Sulawesi Selatan telah memulai perjalanannya untuk lima tahun ke depan, dan memulai persiapan untuk pelantinkan pengurus PGRI baru tahun 2009-2014, setelah melalui konferensi yang alot dan panjang, penuh perdebatan, penuh aroma persaingan untuk memenangkan utusan, masingmasing dari 23 kabupaten Kota di Sulsel.
Tapi setidaknya ada satu hal yang patut dicermati bahwa kemenangan ketua umum bapak Muhammad Asmin, M.Pd. dengan kemenangan telak hampir 98 persen, menunjukkan aspirasi rekan guru terhadap figur kepemimpinan seorang guru yang mampu menjadi penyejuk sekaligs pengayom bagi rekan guru lainnya adalah hal yang mutlak diperlukan dalam menahkodai organisasi guru terbesar di Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan ini.
Bahwa kemenangan, seseorang figur pada dasarnya adalah kemenangan hati nurani setiap perwakilan cabang yang telah memberikan suaranya 'terlepas dari arahan dari ketua PGRI masing-masing di Kabupaten Kota yang menjadi leader' di wilayah masing-masing.
Olehnya itu, aura hati nurani wajib dan mutlak menjadi roh dan filosofi dasar dalam setiap rekan guru dalam menyuarakan hak dan kewajibannya untuk membangun citra profesional ada setiap insan guru dimananpun mereka berada, gunung, dataran tinggi, dataran rendah, pantai bahkan pulau yang kadang tidak terdapat di peta yang dipelajari oleh anak-anak kita di sekolah.
Aura yang harusnya terus disuarakan; bahwa citra guru harus dimulai dari diri sendiri, dari hal kecil dan harus sekarang, terlepas ada atau tidaknya PGRI itu sendiri, karena profesi guru adalah profesi yang utama dalam menjaga kelangsungan generasi dan eksistensi bangsa, pilihan apakah negara ini ingin tetap tegak atau bermartabat, harus dimulai dari eksistensi pendidikan yang menjunjung martabat bangsa itu sendiri.
Berbagai pakar pendidikan kerap mengadopsi suasana saat-saat Nagasaki dan Hirosima diluluh lantakkan dengan Bom Atom, bahwa sesaat setelah itu Kaisar Jepang segera mengumpulkan toko-tokoh dan pertanyaan pertama yang diajukan adalah: berapa banyak guru yang masih hidup?
Ironis, karena cerita (?) yang terus menerus ditambah dan dibumbui dan kehilangan makna semangat karena kita tidak sadar bahwa sistem pendidikan di Jepang dibangun dua abad sebelumnya sejak Restorasi Meiji.
Bagaimana sistem pendidikan kita?
Citra guru kita?
kesejahteraan Guru kita?
Semoga kita tidak terlelap dengan cerita ini, dengan kebanggaan pentingnya peran guru dalam membangun bangsa, dalam membangun generasi, sebagai pembangun insan cendekia, namun kita lupa bayangan gelap dari perjalanan guru-guru kita di gunung, dataran tinggi, pantai dan pulau yang kita pun tak tahu letaknya di peta, dalam menjalani hidupnya sebagai guru yang harus terus ditiru, digugu dan sejumlah tuntutan untuk menjadi bintang bersinar menerangi manusia dan alam dalam gelap, menjadi matahari penerang disaat semua makhluk membutuhkan hidup yang benar.
Bayangan gelap atas tuntutan hidupnya sendiri, yang harus mereka jalani sendiri, tuntutan anak-anaknya yang harus mereka atasi sendiri, tuntutan profesinya yang harus mereka bangun sendiri.
Sendiri..sendiri dan sendiri.
Seperti hati gundah rekan guru peserta konferensi yang 'mungkin sesaat terlupakan oleh gemerlap hotel Clarion' yang akan tetap gundah sesaat mereka menginjakkan kakinya di tanahnya masing-masing, gundah oleh biroksari yang tidak berpihak pada dirinya, dan sejumlah gundah lainnya.
Tapi itulah guru, tetap akan ditiru karena diri dan hatinya dipenuhi bukan saja oleh kebajikan namun juga kebijakan, guru apapun masalahnya akan tetap bajik dan bijak dalam menyikapi hidupnya dan hidup orang lain, yang bahkan tidak bijak terhadapnya.
Semoga organisasi PGRI ini menjadi bahtera yang dapat membawa guru kita di Sulawesi Selatan, menjadi lebih baik setidakny hingga tahun 2014.
Only God's know!
Comments