senyum penjual jagung

April 2006 - pukul 17.30 Wita: sore itu brosur lomba baru saja saya dapatkan, ah bodohnya kenapa saya harus menunggu brosur ini dari teman berhari-hari, padahal tentunya bisa saya unggah dari internet. Tapi dia berjanji dan saya pun menunggu, menunggu dan beginilah kejadiannya. Brosur panduan lomba sudah saya peroleh dalam foto kopian dan ternyata deadlinenya besok pagi. Bodoh, cemas, gemas, aaahh...bagaimana mungkin? materi tulisannya memang sudah saya miliki, hanya bagaimana mungkin selesai dalam semalam..hufff. pukul 22.00wita: perasaan berkecamuk, pekerjaan hari ini pun belum selesai, masih harus menunggu hingga larut agar bisa selesai dan saya pulang ke rumah malam itu dengan menggerutu...sepanjang jalan saya menghayalkan betapa indahnya jika bisa memenangkan lomba menulis kali ini, menghayalkan betapa sesuainya tema lomba dengan materi yang sudah saya kumpulkan selama tiga bulan ini, dan tentunya peluang saya lebih besar dari teman yang memberi saya brosur....aarrgh.... pukul 23.30 wita: motor ku pacu pelan, melalui jalan pulang malam itu perasaan ku memang berbeda, ....karena lepas satu kesempatan emas ini, kecewa, sedih, maraah!!!, namun seperti biasa, di jalan ini...sunyi hanya saya sendiri, dingin menyelimuti, tetes embun menimpali dan dari kejauhan seperti biasa, lampu pelita kecil dan kibasan kipas membuat bara pembakaran jagung mulai terlihat...asap mengepul...dan senyum penjual jagung itu...
aaahhh...hanya kami berdua, jagung bakarnya pun hanya seribu rupiah perbuah, ditengah malam buta...tapi kenapa senyum itu selalu sehebat itu?? huuff...demi seribu rupiah, dia melawan keputusasaan...dia memiliki harapan, mungkin dia pun tak tahu bagaimana membesarkan usahanya, pun tak tahu bagaimana hal ini mengantar kesuksesannya, tapi dia tentunya tahu bahwa harapan tidak akan pernah meninggalkan orang yang menggenggamnya.
Pukul 01.00 wita: saya memutuskan untuk melawan keputusasaan, melawan kekalahanku, melawan kesombonganku...dihadapanku ada mimpi besar dan hadiar lebih dari seribu rupiah milik penjual jagung....dan tulisan pun selesai sebelum adzan subuh berkumandang, ....pagi tulisan itu dijilid rapi dan dikirim via pos!
pukul 13.00 wita (sebulan sesudahnya): pak pos mengantarkan surat dari departemen pendidikan untuk menghadiri pemaparan tulisan di Jakarta; tiket, akomodasi, konsumsi plus uang saku ditanggung...huff.... 2 Mei 2010 pukul 08.00 wita - hingga selamanya: bapak penjual jagung, tentunya Tuhan berpesan kepadaku melaluimu...tak tahu siapa namamu, dimana kamu kini berada, tapi senyummu malam itu sudah mengukir kuat hatiku: 'harapan tak akan meninggalkan orang yang menggenggamnya !'

Comments

Popular Posts