Persahabatan Monyet dan Ikan
Dahulu kala seekor monyet bersahabat dengan seekor ikan. Mereka hidup rukun, monyet tinggal di dahan pohon di atas sungai, dan tepat di bawahnya, hiduplah ikan..hilir mudik bercengkerama dengan sahabatnya.
Suka duka, gembira ria, mereka nikmati bersama, tak ada lagi kata berpisah..hingga suatu hari hujan turun dengan deras. Sang monyet bergegas naik kerumahnya… rimbunan daun menahan air tak jatuh membasahi tubuhnya...kehangatan pun tercipta seketika.
Tapi ups...di bawah sana, tetesan air memercik kesegala arah, dingin, basah...'aahh, tidak, sahabatku ikan, pasti kamu sedang kedinginan, dan sulit bernafas!" seru sang monyet. Serta merta sang monyet turun menghampiri sahabatnya sang ikan, clups...sang ikan digenggamnya..'hhaha..sahabat ayo kita berteduh dirumahku yang hangat!" makin keras cengkraman sang monyet dan sang ikan menggelepar kesakitan.
"Lepaskan, lepas...!" kata sang ikan. "tidak, apapun yang terjadi engkau adalah sahabatku, saya akan tetap hadir di sisimu, selalu menolongmu!" timpal sang monyet.
Pertaruhan nilai persahabatan sang monyet dan pertaruhan nyawa sang ikan pun terjadi...terus hingga sang ikan lemas...."sahabatku monyet, aku tahu maksudmu baik, tapi caramu tidak, dan kini saya pun harus mati karena kebodohanmu!" dan sang ikan pun mati kehabisan udara. Tinggallah sang monyet meratapi sahabatnya.
Terkadang persahabatan manusia pun seperti ini, karena ketidakpahaman akan makna, seorang sahabat (A) cenderung mengarahkan pikiran sahabatnya (B) untuk selalu berada dalam ruang pikirannya, dan manakala berbeda, mereka bukan lagi sahabat.
Padahal sesungguhnya persahabatan yang baik selalu memberikan ruang kepada A dan B atau kepada monyet dan ikan atau kepada anda dan sahabat anda, atau kepada istri anda, anda kepada suami anda, untuk menjadi diri anda masing-masing!
Comments