facebook siswaku
Sebelum facebook menyita perhatianku, pandanganku pada siswaku tak laik seperti memandang seorang anak dalam teori-teori pendidikan. Mereka anak yang dalam asa adolesence, masa perubahan yang membuat mereka mudah berubah, bergejolak dan..ah.
Minggu terakhir ini pun sungguh mengubur sejumlah pandangan masa laluku, siswaku bergerak jauh lebih cepat yang saya kira..mungkin itu kata yang tepat untuk mengungkapkan keheranan saya.
Sebut satu siswaku, misalnya 'X' yang saat berlalu dihadapanku tak pernah luput melemparkan senyumnya, mengurai salam, atau sekedar menciumi tangan kami para guru, setiap hari. Bajunya rapi, wajahnya bersih, segar, langkahnya baik, tutur katanya sopan, konsentrasinya tinggi saat mengikuti pelajaran bahkan nilai-nilainya tak dapat pula dikataan kurang. Lumayan.
Hingga saat saya menjadikan dia teman dalam facebook ku dan kenyataan lain muncul, sejumlah sumpah serapah, semburat kata-kata cinta yang tak terbalas layaknya anak remaja yang hari-harinya telah diracuni cinta (?), hingga sejumlah istilah remaja yang sebaiknya tidak pernah ada dikepalanya pun kerap digunakan..masyaAllah.
Kecewa..ya jelas kecewa, seperti rasa kecewa saya pada diriku sendiri yang tidak memiliki banyak pengetahuan baru untuk memahami seberapa cepat anak-anak kita berubah sekarang. Mungkinkah kelas kita sekarang hanya dibalur dengan teori biologi, fisika atau matematika tanpa makna akan hakikat hidup?
Tentunya tidak, persoalannya hanya bagaimana mengutarakan ilmu yang kita ajarkan dengan baluran nilai budaya, adat dan nilai agama tentunya, sebelum terlambat, karena teknologi dan informasi adalah virus yang telah menembus hingga ke kamar anak-anak kita yang tak dapat lagi kita bendung bahkan telah menentap dalam relung hati mereka.
Facebook adalah virus yang 'sayangnya' guru-guru juga asyik sebarkan tanpa sadar bahwa mereka adalah bagian dari penyebarannya, olehnya itu, sejak dini marilah jadi bagian pengguna facebook yang terus menerus menebarkan antivirus, seperti di lingkungan sekolah kita yang tak pernah berhenti menjadi teman anak menyelesaikan masalahnya.
Mari jadi teman dan pengobat bagi anak-anak, bagi siswa kita, teman yang berfungsi memberikan arah bagi mereka lewat ruang teknologi dan informasi agar nilai budaya, adat dan nilai agama itu selalu hadir, di kamar, dalam genggaman hp-nya hingga dalam relung hatinya.
Comments