Sekolah lagi = selamat datang di Neraka!
Ha ha ha ha, tergelak saya hingga perutku terasa berguncang, membaca sms siswa ku yang satu ini, sederhana cuma bilang: 'P' hari senin dah masuk sekolah ya? selamat datang di neraka!'
Saya tahu maksudnya apa, soalnya dua hari sebelum libur panjang lebaran Idul Fitri dia datang menemui saya dan menumpahkan keluh kesahnya di sekolahnya. 'Bete pak, aturan banyak, belum lagi pake acara denda uang, memang sih cuma Rp.1000,- tapi kalo sepulu kali kan bisa buat beli baju lebaran!' terasa sekali gurat kesal diwajahnya.
'Oh..gitu, memangnya kenapa kamu minggu ini nak?' tanyaku menggali lebih jauh.
'Bayangkan Pak, kemarin saya terpaksa pulang, jalan kaki, siang-siang gini...puuaasa Pak...panas, mana sahurnya cuma sedikit, aahhh!!' capek deh, telat datang ke sekolah, saya kan di kena poin, eeehhh, pake denda lagi, uang segitu-gitunya Pak...!' kali ini bukan gurat kesal lagi, tapi marah. Tapi tetap tak kutanggapi, untuk memberinya waktu menumpahkan perasaannya lebih dalam.
'sekolah ini kaya' neraka Pak!, neraka aja pake ampunan ini wiiiihh!'
'Sabar..sabar, kan puasa nak!' sergahku.
Sungguh saya pun tak bisa memberi solusi hari itu, daripada berjanji untuk menyampaikan ke perangkat sekolah, seperti dulu-dulu tak akan ditanggapi, soalnya mereka kekeh dengan prinsip otoriter mereka dalam menegakkan disiplin. Prinsip: anjing menggonggong kafilah berlalu...rasanya menjadi prinsip pelaksanaan manajemen sekolah. Hufff, saya memilih diam dan tersenyum, sembari mengajaknya tetap sabar dan sabar....!
Hingga membaca, sms nya hari ini, saya mencoba referensi yang ada dan tertera dalam UU 23 Tahun 2002 pasal 10 tentang Perlindungan Anak, yaitu: 'setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan'
Harusnya sekolah memberi ruang yang lebih baik dan jelas kepada semua siswanya untuk menyusun tata tertib di sekolahnya sendiri sehingga bukannya tata tertib makin memenjarakan diri anak, bukannya makin mengungkung kreatifitas anak, dan merasa sekolah adalah neraka. Atau setidaknya kita semua guru punya waktu dan kemauan untuk membuka ruang berbicara dan kesempatan bagi anak untuk menentukan apa yang mereka mau.
Terima kasih untuk sms-nya nak!
Comments