karena kita semua adalah guru

'bukankah anak bangsa yang mau besar peranannya suatu saat lahir dari tantangan dini yang besar?' satu komentar yang tak bisa ku tolak kebenarannya, saat membacanya..ah..Jack, sahabatku ini sudah lama tak bertemu namun prinsip dan gurat kekuatan jiwanya masih terbaca jelas, sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Betul, bahwa kekuatan bangsa dimasa depan harus dibangun hari ini dengan memandang anak-anak kita di rumah, di halaman tetangga, di sawah, ladang kering, tanah basah oleh embun dan anak yang tengah diterpa angin laut diatas perahu nelayan, terutama di kelas. Bahwa mereka adalah sebuah sosok yang menjadi tanggungjawab semua pihak, orang tua biologis mereka, yang berkewajiban menyiapkan mereka sejak 25 tahun sebelumnya dengan gen yang baik, perilaku yang baik, kepribadian yang baik, gizi yang cukup, materi untuk kebutuhannya sehari yang tepat dan kasih sayang yang membuat mereka tumbuh menjulang keatas; bahwa mereka adalah sosok sosial yang ditangan para pemuka agama dan tokoh masyarakat mendapat panutan akan pentingnya kejujuran, kesamaan antara kata dan perbuatan, antara penampilan dan kepribadian; bahwa mereka adalah sosok cermin yang akan bercermin dari sosok figur, selebrities, artis, apapun namanya yang cantik, gagah, berparas rupawan, kaya, dan segala macam dongeng di negeri impian yang tak pernah lelah menawarkan impian tak nyata; bahwa mereka adalah sosok yang berdiri diatas kaki para peimpin yang akan menciptakan aturan mulai dari gubernur, walikota, camat, lurah, kepala dinas, hingga kepala sekolah. Aturan yang akan menggerakkan atau menghentikan mereka, apapaun maunya sang pembuat aturan; bahwa mereka adalah sosok yang akan mengikuti apapun kata guru, jika guru menyatakan merah maka merahlah jiwanya, jika guru marah pada kesalahan mereka maka marah pada kesalaha yang dibuat adalah hal yang benar dimatanya! bahwa mereka adalah sosok yang mengagungkan cinta, tanpa defenisi tanpa perdebatan, maka jika para orang tua, pemimpin terutama guru menyatakan cintanya dengan aturan yang menginjak harga diri mereka, menekan jiwa mereka, membuncah kesedihan di hati mereka, mengaduk pikirannya yang putih, merobek robek harapannya, menahan kreativitasnya, melabur amarahnya, maka seperti itulah defenisi cinta nantinya bagi mereka. jadi jika tantangan besar kita terjemahkan dengan aturan yang membungkam semua hatinya, maka selamat menunggu kehancuran generasi tahap kedua; saat anda berjalan diterik siang, berjinjit dan setengah berlari menghindari lemparan batu tawuran anak-anak kita, teriak kasar dan sapaan jorok, narkoba, dan bakaran ban! atau jika tantangan besar kita artikan dengan cinta yang sesungguhnya, maka anda bisa berharap duduk di beranda rumah sore hari, memandang bunga yang merekah, di sela canda anak-anak kita, nyanyian indah anak bumi pertiwi, menyanyikan kecintaan pada bangsanya. para orang tua, tokoh masyarakat, dan pemimpin, karena kita semua guru, tentunya kita pandai memilih!

Comments

Popular Posts