Sekolahku mengejar juara Lomba Sekolah Sehat!

  • Meski canda yang terlalu masih membaur, huff...butiran keringat tak henti menetes pelan, bergulir penuh di pipi anak kelas VII sabtu pagi ini.
  • 'Aaaahhh capeeek deh!''Kenapa ki' nak?'
  • 'Mau ada apakah ini Pak?'
  • 'Maksudnya?'
  • Betul, pagi ini semua siswa dan guru betul-betul dalam kekhusukan bekerja membersihkan, entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing, bukan urusanku juga, meski mengusik pikiranku, jelas!.
  • Semua wali kelas di kelasnya masing-masing sibuk menata ruang kelasnya, agar indah dalam perspektifnya masing-masing, semua siswa sibuk dalam kerjanya membersihkan, menyapu, mengepel, semua bujang sekolah menyingsingkan lengan menerabas rumput yang makin tinggi, makin tinggi.
  • 'Oh, katanya akan ada Tim penilai Lomba Sekolah Sehat Tahun 2009 yang akan berkunjung ke sekolah ini Pak, sehingga semua orang harus turun menyingsingkan lengan baju untuk meraih gelar Juara Sekolah Sehat Tahun 2009 yang harusnya punya target untuk mewakili Sulawesi Selatan ke Jakarta'.
  • 'Oh begitu, satu prestasi yang harus kita dukung, harus kita upayakan, harus kita kerjakan bersama', harus...harus..harus..meski apakah kita harus mengumpulkan sumbangan dari siswa untuk menata taman di depan kelas masing-masing, meski harus mengumpulkan uang untuk membeli rumput, mengumpulkan uang untuk mengecat ruang kelas, mengumpulkan...mengumpulkan...dari recehan dan ribuan uang jajan pengganjal perut anak-anak, ribuan uang transport yang diberikan oleh ibunya, meski adanya hanya sebesar tiga ribu rupiah, meski mereka berangkat ke sekolah dengan tiga baris kerutan di dahi dan bibir yang mengkerat!
  • 'Oh, salahkah?' Entahlah, karena mungkin tiap ambisi harus diperjuangkan, atau setiap ambisi harus mengorbankan materi, atau? mungkin kita salah karena kita berupaya membuat sekolah menjadi sehat (?) hanya untuk mendapatkan penilaian, bukan untuk membuat anak yang menjadi pemilik sah sekolah mendapatkan haknya untuk menikmati layanan sekolah yang sehat dan mereka hanya belajar untuk menancapkan perilaku sehat itu sendiri ke dalam pemikirannya, yang akan tergambar dalam pandangannya dan tampak dalam perilakunya sehari-hari.
  • Sehingga, harusnya dalam mengupayakan sekolah sehat, bukan predikat juara yang perlu menjadi prioritas, tetapi lebih dari itu maka layanan pendidikan yang sehat adalah inti dari sebuah sekolah yang sehat. Sehat secara jasmani dalam artian anak mendapatkan fasilitas sekolah yang sehat, sanitasi yang cukup, bangku dan meja yang ergonomis, papan tulis yang terang, tulisan yang cerah sehingga terlihat jelas, dan udara bersih jauh dari polusi dan debu yang mengganggu paru-parunya.
  • Disisi lain, sehat juga berarti secara rohani dalam artian anak mendapatkan layanan kesehatan yang mendukung proses tumbuh kembang anak sehingga anak dapat tumbuh menjadi anak yang bukan hanya sehat secara fisik namun memiliki kecerdasan emosional untuk dapat memahami pentingnya kesehatan iu sendiri.
  • Namun, saat sebuah gelar juara Sekolah Sehat dipertaruhkan, diraih dengan mengorbankan peluh dan kesal anak, hal ini adalah gambaran nyata betapa sebuah sekolah belum membangun sebuah sistem sekolah sehat,
  • Olehnya itu mungkin untuk para Guru; maka mari kita sehatkan pikiran, untuk mengubah perilaku anak dahulu untuk menjadi sehat, dengan perilaku tidak merokok, tidak membuang sampah, memunguti sampah, memilah sampah, mendaur ulang sambah, dan banyak hal lainnya, terlebih dahulu.
  • Olehnya itu mungkin para Guru; mari sehatkan rohani dengan tidak memungut sumbangan yang akan menjadikan anak kita pasrah dan berharap pada belas kasihan dan peran serta orang lain, meski kebutuhan itu 'ternyata hanya untuk diri sendiri'
  • Meski masih banyak waktu untuk berbenah, namun dengan sekolah dengan kondisi seperti ini, maka kalaupun sebuah gelar nantinya diperoleh, maka pertanyaan yang paling layak adalah tertuju pada kesehatan mental tim penilai Lomba Sekolah Sehat itu sendiri!

Comments

zakaria said…
tulll...tercipta sekolah sehat dari singsingan lengan baju warga sekolah, saluut deh. biarkan 3 atau empat kerutan di dahi mereka ntuk sekolah mreka...bukankah anak bangsa yang mau besar peranannya suatu saat lahir dari tantangan dini yang besar?

Popular Posts