GURU HARUSNYA SEPERTI APA?

Dalam sebuah Diklat yang saya ikuti dalam persiapan Trainer of Trainers yang dilaksanakan oleh DBE3 - USAID bagi Calon District Trainers kota Makassar, berbagai macam karakter Guru pun muncul dan menjadi ramuan yang sangat indah.
Ada rekan Guru dari daerah yang masih Gatek ada juga yang sudah Metek, syukurnya karena bukan hanya Guru yang berasal dari Makassar sebagai ibu kota Sulawesi Selatan yang notabene dekat dengan media Informasi Komunikasi dan Teknologi, namun Guru dari Sidrap, Pinrang bahkan Luwu yang relatif jauh dari jaringan IT pendidikan sudah memiliki kecakapan dalam hal teknologi (belum semua sih!).
Satu hal yang menggugah dalam keseluruhan diskusi adalah bahwa selama seminggu kita rajin menggodok profil Guru sebenarnya yang bagaimana? Sosok Umar Bakri dengan tampilan fisik berkopiah, baju safari, tas kulit besar dan sepeda jengki? atau Umar Metek yang menyandang laptop dengan mobil?
Ahh..bagaimana mau berubah Pak kalau gajinya...?
Ets tunggu dulu....bukannya nasib kita akan berubah kalau kita punya inisiatif untuk mengubahnya? Olehnya itu kata teman-teman peserta, saat kita memutuskan diri untuk menjadi Guru telepas Guru sebagai profesi kedua, maka kita pun tak punya pilihan selain memfasilitasi diri, menginvestasikan diri dengan ilmu, kompetensi dan sejumlah perangkat penunjang yang akan mengakselerasi kita untuk mencapai tujuan.
Ada joke unik, bahwa penjual obat yang sangat sadar bahwa obat yang dijualnya itu legal bahkan palsu, masih dengan penuh keyakinan mempersiapkan diri dan media sosialisasinya berteriak dan membuat satu persatu orang berdatangan membli obat yang diketahuinya..Palsu !
Bukankah Guru akan lebih hebat dari, karena saat sebelum menjadi Guru semuanya tentu telah membekali dirinya dengan pengetahuan Didaktik dan Paedagogik serta penguasaan bidang ilmu yang lumayan mumpuni, apalagi sisa membutuhkan sedikit sentuhan utnuk membuat semua yang ada dihadapan kita percaya dan mengikuti alur pikir kita...siswa.
Bukankah pesan yang disampaikan oleh Guru begitu diyakini semua orang sebagai sebuah kebenaran? lalu mengapa siswa kita masih tertunduk lesu, eluar masuk, ngantuk, ngpobrol atau bahkan bolos?
Ah..hayalkan saat kita telah memegang tiket 21 untuk menyaksikan penayangan film, tak sedetik pun rasanya kita ingin tertinggal, kendaraan dipacu, pakaian di siapkan, bekal makanan ringan di beli, hanya untuk menonton tayangan yang pada akhirnya sama sekali tidak mempunyai korelasi positif dengan masa depan.
Olehnya itu maka fungsi Guru ke depan akan semakin berat dengan tantangan. tantangan menjadi artis di depan kelas yang membuat siswanya terlena dan mengikuti alur pikir gurunya, tertawa, menangis, empati, marah, semua terukur dan terencana dengan baik sebelumnya.
Pertanyaan Guru harusnya seperti apa?, pun bubar seiring satu persatu peserta ngantuk....
jadi kesimpulannya?
Issengi deh (terserah)... kamu maunya seperti apa kah?

Comments

Popular Posts