MAAF YANG EGOIS

Berebut siswa ku berupaya mendapat kesempatan berjabat tangan, di tempat paling dekat dengan saya. Siang itu di dua hari terakhir sekolah Ramadhan ini. uff..! saling dorong, riuh penuh tawa canda dan semburat senyum bahagia. Entah karena ingin liburan atau karena bahagia saja.
'Wee..sabar ko...maaf lahir bathin ya pak!...selamat libur ya pak!....maafkan salah saya ya pak!'
Sungguh, bahagia tak terkira melihat ini, bukan karena caranya yang tak bisa antri tapi setidaknya niatnya tuk meminta maaf jadi satu tanda jika siswa saya telah memiliki kecerdasan emosional yang menurut penelitian anak memberikan kesempatan sukses 80% di masa depan. SubhanalLah. Lamunan yang terus berpusar hingga rebutan salaman tak terasa.
Hingga mataku tertuju pada satu siswa yang tengah menunggu kesempatan berjabat tangan..tapi, hei tak biasanya...dia hanya berdiri menatap saya dari jarak beberapa meter, terpisah dari kerumunan siswa yang lain.Bukan..bukan karena dia tak mau berjabat tangan pastinya!
Hingga ku putuskan untuk menunggu setelah semua selesai...dia pun seperti itu tak beranjak dari tempatnya menatapku..menunggu kesempatannya..sesaat kuulurkan tangan lebih dahulu...'selamat libur ya nak...selamat puasa hingga hari terakhir..selamat lebaran dan maafkan Bapak jika selama mengajar punya kesalahan yang tidak disengaja, oke?!'
Tangannya terulur dan menjabatku tegas 'Mengapa pak, kita harus meminta maaf saat lebaran tiba?'
'Ya, agar kita masuki bulan selanjutnya dengan bersih..fitrah..bebas dari dosa kita pada orang lain..iya kan?'
'Bapak egois!'
'What?'...sesaat aku tak dapat berkata apa-apa...'maksudnya?'
'Itulah pak, karena semua orang segera ingin bersih dari segala noda yang telah dibuatnya..meski telah melubangi hati orang lain..yang lubangnya selalu dikiranya begitu mudah untuk ditutupi hanya dengan maaf!'
'Lalu?' tanyaku mengejar sisi lain dari kata-katanya.
'Tauk lah pak..saya juga tidak mengerti ..meski kita tetap harus meminta maaf!' seraya menarik nafas panjang, dan bersandar ke dinding kelas. 'Bayangkan saja pak, setahun lebih sejak kelas satu seseorang di kelas saya tak berhenti menghina saya...penampilan saya...keluarga saya...dan saya harus bersembunyi dari dia meski saya merasa butuh bersama bebas..hanya jika dia ada!' sergahnya mengungkapkan kekesalannya.
Uff..saya mengerti sekarang, sambil menarik nafas menunggu kata-kata lain.
'Seperti guru itu juga pak yang tak berhenti memarahi saya..menghina saya bodoh..menghukum saya...lalu dengan enteng saya harus datang meminta maaf..iiih!' sesaat dia diam, saya pun diam.
Perlahan ku tepuk bahunya..terdiam beberapa saat...tinggal kami berdua di koridor itu...angin kering meniup debu..serpihan daun..terasa sekali beterbangan, sungguh kering, seperti keringnya hati kami.
Sungguh saya kehabisan kata-kata untuk bilang apa-apa, karena saya ingin bilang...dia benar!. Dia benar, kadang maaf kita egois, saat kita meminta maaf hanya untuk menghapus dosa-dosa kita, agar diri kita fitrah, suci bersih seperti kapas seputih awan, maaf kita hanya untuk diri kita bahkan bukan untuk Tuhan, juga bahkan bukan untuk menutup lubang di hati orang yang telah kita lukai!
'Terima kasih nak!

Comments

zakaria said…
tul itu sob...kadang kita mengabaikan sisi lain dari anak didik, pada sisi lain kita selalu berprinsip bahwa segala disekeliling kita adalah sumber belajar tanpa memandang apa dan siapa dia...

Popular Posts