hidup tidak datar jadi jangan menyerah
satu pesan singkat dari siswaku betul-betul menghentak perasaan, tak pernah terpikir, tak pernah ada bahkan dalam lamunan. 'Pak saya remedial! sedih !'
Sungguh tak mengerti juga harus menjawab apa sesungguhnya, karena dia siswa yang berpotensi besar, memiliki intelegiensi yang tinggi serta memiliki kematangan emosional yang lebih baik dibanding rekan-rekannya yang seusia.
Ah..tapi itulah kenyataannya, pada banyak siswa yang kuhadapi, karena hidupnya tidak rata, setiap orang akan punya saat dimana kita jenuh dengan segala rutinitas, jenuh dengan segala keindahan yang melabur dalam hati kita, jenuh dengan sejumlah predikat yang ada, jenuh dengan segala tuntutan yang diberikan dan jenuh dengan segala target yang kita buat sendiri.
Target, tantangan, dan tuntutan membuat kita menarik benang merah sebagai batas antara hidup kita yang sebenarnya dengan hidup kita seharusnya. Hingga kita selalu merasa tertinggal karena kaki kita berpijak pada hidup kita yang sebenarnya sedang mata dan hati kita menatap lurus pada hidup yang seharusnya tanpa pernah bertanya tulus pada jiwa dan raga kita.
Ah..ini terlalu sulit mungkin, setidaknya banyak anak-anak kita yang seharusnya berada dalam keceriaan, tawa, gelak, canda anak-anak seusianya, bermain, bergurau, saling ejek, dorong, lari, kejar, peluh menetes dikeringat mereka, lalu tawa merebak lagi, manis, terpancar jelas dimatanya, dalam sebuah sekolah dalam rumah bahkan dibawah pohon tetangga mereka.
Harus terkubur dalam tuntutan menjadi yang terbaik, dihadapkan pada tantangan semu yang kita buat sendiri dan tergantung hingga ke langit pada target yang telah orang maupun guru telah tetapkan...agar mereka layak untuk disebut anak yang baik!
Departemen Pendidikan dengan target Kurikulumnya,
Dinas Pendidikan dengan Kriteria Ketuntasan Minimalnya,
sekolah dengan target kelulusan ujian,
guru dengan target perilaku dan kecerdasan,
teman sebaya dengan terget menjadi anak yang aktif,
lingkungan dengan target anak yang baiki,
orang tua dengan target anak yang berbakti...
lalu kita paksa anak untuk menghabiskan waktunya dengan desakan untuk belajar delapan jam di pagi hari hingga jam dua siang, lalu sejumlah les hingga jam lima sore, lalu mengaji membentuk pribadi hingga jam delapan malan, lalu belajar hingga jam sepuluh malam, lalu membuat rencana untuk besok, lalu, lalu. .lalu kemana kita para orang tua dan guru, saat mereka terluka, terendahkan, sedih, lelah, kecewa, malu, lupa, tidak tahu, cemas, terlambat?
Hahahahha...kita asyik menghukum mereka, memarahi mereka, menghina mereka, membuat mereka semakin kalut, kacau dan mendorongnya ke sudut dengan sebuah tantangan besar bernama Ulangan Semester!
Hahahhah..hebatnya, kita dorong mereka, kita sudutkan mereka, saat mereka terluka, hingga nampak jelas jika mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena kita para guru yang arogan...dengan satu kata yang membuat guru seakan seperti peri penyelamat hidup ...Remedial!
Ah..inipun masih terlalu sulit, kini isi pesan singkat itu makin berbaris rapi dalam ingatanku, dan mencoba kekuatanku untuk mencari jawaban terjelas.. nak hidup itu tidak datar jadi jangan menyerah, kita balas besok!
Comments